Trump sebut surat terbaru dari Kim Jong-un karya seni yang indah

BERITA TERKINI –┬áPresiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan dia telah menerima surat pribadi ‘terbaru’ dari Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Hal itu ia utarakan saat konferensi pers bersama dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe usai keduanya melaksanakan pertemuan bilateral di sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pekan ini, 26 September 2018.

Trump menyebut surat terbaru dari Kim Jong-un sebagai “karya seni yang indah” dan mengatakan ia dan Kim telah “akur”, demikian seperti dikutip dari surat kabar Inggris The Telegraph, Kamis (27/9).

Tenggat Waktu Denuklirisasi Mundur

Tampak terkesima dengan surat yang ia terima dari Kim Jong-un, lewat sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan, Trump mengumumkan, kini pemerintah AS memberikan kelonggaran tenggat waktu denuklirisasi yang harus dipenuhi oleh Korea Utara.

Ini menandai pergeseran sikap dari sang Presiden AS, setelah sebelumnya, ia amat mendesak Kim Jong-un untuk sesegera mungkin melakukan denuklirisasi seperti yang digemakan olehnya usai pertemuan tingkat tinggi dengan sang pemimpin Korut di Singapura pada Juni 2018 lalu.

Reaksi terbaru Trump amat kontras dengan pernyataan Menlu AS Mike Pompeo pekan lalu, yang menetapkan tenggat waktu denuklirisasi pada 2021 –tiga tahun dari sekarang. Namun kini diketahui, Pompeo sendiri pun telah menghapus tenggat waktu yang ia tetapkan.

Dalam konteks yang lebih luas, pergeseran sikap ini juga mungkin dipengaruhi oleh bagaimana Trump dan Pompeo terkesima atas hasil yang dicapai oleh Kim Jong-un dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in usai melaksanakan KTT di Pyongyang beberapa pekan lalu. Keduanya meneken sejumlah poin kesepakatan, dengan salah satunya adalah komitmen Korea Utara untuk membongkar fasilitas uji coba nuklirnya yang berlokasi di Yongbyon.

Melanjutkan rincian pandangannya terhadap Korea Utara dan Kim Jong-un usai menerima surat terbaru itu, Donald Trump mengatakan, “Dia (Kim) suka saya (Trump), saya juga menyukainya. Kami akur,” ujarnya di samping PM Abe –yang dalam Sidang Majelis Umum PBB juga mengumumkan pelonggaran sikap dengan menyatakan bersedia bertemu dengan sang pemimpin Korut.

“Saya menunjukkan suratnya ke Abe, dan dia mengatakan, ‘surat ini merupakan sebuah terobosan, ini luar biasa, bersejarah’,” kata Trump mengutip Abe.

“Dan itu memang indah dan bersejarah. Oleh karenanya, saya pikir, kita akan membuat kesepakatan. Apakah kita akan membuat kesepakatan? Saya tidak benar-benar tahu. Saya pikir kita akan melakukannya.”

Kontras dengan apa yang disampaikan oleh Trump tahun lalu, pada Sidang Majelis Umum PBB 2018, Trump memasukkan diktator Korea Utara, Kim Jong-un, menjadi salah satu “sekutunya”. Padahal, pada edisi sidang 2017, ia pernah mengancam untuk “menghancurkan” Korea Utara.

Setahun berlalu, kini Trump berterima kasih kepada pemimpin negara itu atas “keberaniannya, dan untuk langkah-langkah yang telah diambilnya”–mereferensi pada KTT di Singapura pada Juni 2018 dan mencairnya hubungan diplomatik Korea Utara dan Korea Selatan sepanjang tahun ini.

Trump menggambarkan pertemuannya dengan Kim di Singapura sebagai terobosan dramatis, dengan mengatakan, “rudal dan roket tidak lagi terbang ke segala arah,” uji coba nuklir telah dihentikan, tahanan AS telah dibebaskan dan sisa-sisa tentara AS yang gugur telah dikembalikan.

Donald Trump juga mengatakan, KTT di Singapura mewakili “momen yang sebenarnya jauh lebih besar daripada yang orang pahami”.

Bertolak belakang dengan pendapat Donald Trump, pakar dan organisasi internasional pemerhati isu nuklir tak yakin bahwa Korea Utara berkomitmen menuju denuklirisasi, mengingat, betapa semu janji yang diutarakan oleh Kim Jong-un, baik kepada Washington maupun kepada Seoul sekali pun.

Pyongyang pun telah menegaskan bahwa mereka tak akan melakukan denuklirisasi, hanya jika, hal itu tak disambt dengan “inisiatif positif” dari AS–yakni berupa peringanan hingga pencabutan penuh sanksi ekonomi.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *