Rupiah melemah capai 15.000 per USD, PLN khawatir kembali rugi

BERITA TERKINI – PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) khawatir akan mengalami kerugian di akhir tahun akibat pelemahan nilai tukar Rupiah. Sebab, posisi Rupiah di 15.000 per USD di luar perhitungan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) perseroan.

“Bisa jadi (rugi). Tahun lalu saja kurs segitu, kerugiannya segitu. Ada juga (khawatir). RKAP saya kan tahun ini Rp 13.000 atau Rp 14.000. Sekarang sudah Rp 15.000,” ujar Direktur Perencanaan PLN, Syofvi Felienty Reokman, dalam Indonesia Investment Forum 2018 di Bali, Selasa (9/10).

Dia mengungkapkan, sebenarnya PLN sudah melakukan lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi gejolak nilai tukar. “PLN kan kalau buat operasional kita hedging. Tapi hedging kita kan operasional artinya 3-6 bulan. Ini kita lakukan terus. Kebutuhan dolar PLN sudah secure,” lanjut dia.

Sementara untuk investasi, Syofvi menyatakan jika PLN lebih banyak menggunakan Rupiah ketimbang Dolar. “PLN sendiri kebutuhan Dolar buat investasi tidak banyak. Karena modelnya 30 persen ekuitas, 70 persen utang. 30 persen itu pakai Rupiah,” jelas dia.

Namun yang memberatkan PLN dari depresiasi Rupiah ini adalah soal biaya operasional. Sebagai contoh, untuk membeli gas sebagai bahan bakar PLTU.

“Cuma secara operasional, kami bayar gas pakai Dolar. IPP pakai Dolar. Walaupun uang kami keluar (bayar) pakai Rupiah, sama mereka dikurskan Dolar. Tapi sampai akhir tahun ini kebutuhan Dolar PLN aman. Buat operasional sebenarnya (yang menguras keuangan),” ungkap dia.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *