Cerita mantan napi teroris langsung diterima warga & dibuatkan warung kelontong

BERITA TERKINI – Fahrur Roji Lubis adalah mantan napi teroris pelaku perampokan Bank CIMB Niaga di Medan dan penembakan polisi di Polsek Hamparan Perak. Dia ditangkap pada 2013 silam setelah melakukan aksinya tersebut.

Dia pun langsung menjalani hukuman selama empat tahun lamanya di tiga lapas yang berbeda yakni di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok; Lapas Subang tahun 2015, Jawa Barat dan terakhir di Lapas Sentul, Bogor, Jawa Barat pada tahun 2017 selama 7 bulan.

Saat berada di Mako Brimob, pria yang memiliki jenggot ini langsung didatangi oleh tim Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Karena tugas BNPT salah satunya untuk menyadarkan para terorisme agar kembali mencintai NKRI.

“Berawal dari ketemuannya dengan teman-teman mulai sadar. Kami di dalam, BNPT datang untuk memberikan pemahaman. Sebelum pulang kami ditarik BNPT. Ketemu BNPT di Mako Brimob, lalu di Lapas Subang 2015 sampai 2017 akhir lalu pindah ke sentul sekitar 7 bulanan,” kata Fahrur Roji.

Warga Pelabuhan Belawan menjelaskan awal mula benar-benar berubah kembali menjadi warga NKRI. Saat itu, dia banyak diberikan masukan oleh pihak BNPT dan juga teman-teman yang berada di dalam satu sel dengannya.

“Dia sebut apa tujuan kita, negara ini sudah ada. Mau memperbaiki atau membuat kekacauan. Kalau bisa kita bekerjasama. Orang itu mengajak bersama-sama membangun negara ini,” jelasnya.

“Saat masih di Mako. Ada pro kontra di dalam Mako, jumpa dengan banyak orang. Kemudian saya ikuti hati, mana yang baik, mana yang cocok dengan hati. Ini kok terlalu keras. Saya mulai 2013 akhir ditahan. Saya jumpa dengan teman Panglima Ambon,” katanya.

Lalu, setelah dia mendapatkan banyak masukan selama menjalani pembinaan atau masa hukuman. Akhirnya dia pun mulai memantapkan hatinya kembali menjadi NKRI. Setelah dia selesai menjalani masa pembinaan, dia pun kembali ke rumah di pertengahan tahun 2018.

Sekembalinya ke rumah, dia heran karena tak mendapatkan gunjingan dari warga sekitar atau para tetangga. Justru yang dia dapatkan perlakuan baik dari para tetangga dan terutama dari aparat kepolisian hingga sampai diberikan modal untuk membuka warung rumahan.

“Saat saya pulang ada bantuan dari Polsek, Polres. Kami dianggap masyarakat biasa. Warga malah lebih baik, dulu biasa saja dan sekarang malah tanya sudah pulang. Untuk orang Polres, mereka antar pulang, sering berkunjung, kasih bantuan ke kita sama terima keluhan-keluhan kita,” ujarnya.

“Yang saya bilang membantu itu, membantu moril, kami diberikan tausiah belum punya SIM dan masalah apa diberikan dan dibantu. Kami ini ada kendala itu dibantu,” tambahnya.

Meskipun dia sudah memiliki warung kelontongan, tapi dia ingin menyalurkan ahlinya di bidang mebel. Hal itu karena dia tak ingin merepotkan orangtuanya yang memang tinggal bersamanya.

“Rumah kelontong, datar. Namanya jualan, ada saingan. Kadang untung lumayan dan kadang kecil. Saya bantu belanja, bisa bantu ya bantu. Kebetulan tinggal di rumah orangtua. Rumah kecil sepetak. Masuk saya besarkan rumah agar untuk warung,” ungkapnya.

“Saya keahlian mebel. Tapi tempat enggak memungkinkan. Dalam benak saya untuk besarkan warung itu biar enggak sempit. Di situ warung, juga amar. Macam mana,” tutupnya.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *